Jumat, 25 Maret 2011

Tulang Ikan Hiu Atasi Kanker

Jessie Arbogast-bocah lelaki berusia 8 tahun tak pernah mengira liburannya berubah menjadi neraka. Ketika pertengahan Juli tahun lalu, ia bermain air di pantai yang cuma setinggi lutut di Pantai Nasional Kepulauan Gulf di Florida tiba-tiba diserang ikan hiu sepanjang 2,1 meter. Bagian lengan dari bahu ke siku dicabik, begitu juga daging pada bagian paha.

Membayangkan ikan hiu, the shark, yang terlintas adalah mahluk ganas bergigi tajam, gemar memangsa hewan lain, bahkan manusia. Namun luput dari perkiraan bila dibalik bayangan yang menakutkan itu tersimpan manfaat bagi kehidupan manusia.

Kecuali siripnya yang lezat dimakan (di Cina bahkan dijadikan "panganan wajib" kalangan istana sejak dinasti Ching), tulang rawannya berkhasiat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Hiu termasuk hewan bertulang belakang, namun seluruhnya justru terdiri dari tulang rawan (cartilage), dengan kata lain, hiu tidak mempunyai tulang pada tubuhnya.

Dalam tulang rawan hiu terkandung protein, kalsium, fosfor, karbohidrat, air, serat, lemak serta komponen alamiah lainnya sebagai nutrisi. Sebaliknya, pada tulang rawan tersebut tidak ditemukan unsur-unsur heavy metal -bukan sejenis aliran musik- tapi unsur-unsur seperti seng, tembaga, merkury, nikel dan sejenisnya yang cenderung berbahaya bagi manusia.

Melihat kandungan zat serupa, para ahli berkesimpulan, tulang rawan hiu tidak beracun dan tidak memiliki efek sampingan, hingga aman dikonsumsi. Badan Pengatur Obat dan Makanan Amerika (FDA), sejak 1993, mengeluarkan izin khusus untuk pemakaian tulang rawan hiu sebagi penunjang pengobatan alternatif. Berdasarkan penelitian secara klinis, tulang rawan hiu dinyatakan mampu menjaga pertumbuhan dan penyebaran sel tumor, membantu mengurangi rasa sakit dan nyeri pada tulang, membantu menghindari penyakit rematik, memperkuat dan menjaga fungsi tulang, membantu menghilangkan rasa pegal dan encok, menjaga kesehatan dan fasilitas tubuh serta menghindari kelainan tulang belakang yang bengkok.

Penelitian tulang rawan ikan hiu pada penyakit sendi dan rematik dipelopori oleh ahli bedah tulang Dr John Pruden dari Harvard. Penelitian awal menunjukkan 25 pasien dari 28 pasien yang menderita rematik artristis berat disertai dengan gangguan fungsi pergerakan setelah disuntik tulang rawan selama 3-8 minggu menunjukkan hasil yang cukup baik. Hal ini disebabkan tulang rawan hiu mengandung protein untuk menggantikan protein kolagen yang rusak pada persendian penyakit rematik.

Tulang rawan hiu sudah lama pula dikenal sebagai makanan sehat oleh masyarakat Cina yang dimakan dalam bentuk bubur yang mengakibatkan kesegaran tubuh dan aktivitas yang lebih. Dr Lane Phd, seorang ahli nutrisi laut dari Cornell University Amerika Serikat yang mengembangkan dan mengadakan penelitian terhadap tulang rawan hiu, mendapatkan banyak kemajuan klinis yang didapat bila penderita rematik (gangguan pada sendi) atau kanker mengkonsumsi tulang rawan hiu.

Akhirnya didapatkan hipotesa anti inflamsi dan anti angio genesis merupakan faktor utama tulang rawan hiu yang menyebabkan makanan ini dapat dipakai untuk penyakit tulang dan kanker. Seperti diketahui, dalam penyakit rematik yang utama (pengapuran tulang, keropos tulang, asam urat dan rematik artritis ) keluhan yang paling sering adalah nyeri dan pembengkakan (inflamasi). Nyeri dan pembengkakan terjadi karena pelepasan dari zat-zat kimia yang disebut dengan IL-1 (interlekin satu) dan TNF (Tumor Necrosing Factor) setelah mendapat injury, luka-luka, mikro maupun secara terus menerus.

Jadi setelah mengetahui asal muasal penyakit maka untuk menghasilkan konservasi sendi yang optimal diperlukan pengetahuan yang baik mengenai anatomis sendi, faktor resiko yang memperburuk selaput tulang sendi serta perawatan selaput tulang rawan sendi tersebut. Sebagai makhluk sosial kita memerlukan mobilitas yang baik, maka pasti besar atau kecil terdapat luka-luka pada sendi yang terus menerus terutama bila aktivitas olah raga makin meningkat.

Mengingat sifat dari selaput tulang rawan sendi tersebut tidak banyak mendapat konsumsi makanan dari darah karena tidak dialiri oleh pembuluh darah, karenanya diperlukan konsumsi bahan makanan seperti tulang rawan ikan hiu yang sekarang sudah banyak dikemas dalam konsumsi makanan "siap pakai". Tidak ada salahnya Anda mencoba.

Artikel ikan Hiu/Shark Klasifikasi dan morfologi Ikan hiu terklasifikasi ke dalam subkelas Elasmobranchii Pisces. Ikan hiu memiliki bentuk tubuh yang bervariasi, tergantung dari spesiesnya. Hiu tidak memiliki tutup insang yang berfungsi untuk memompa air ke rongga insang. Kulit hiu memiliki sisik-sisik halus yang disebut dermal denctile. Jaringan daging dan gigi ikan hiu menempel langsung pada lapisan kulit. Ikan hiu memiliki sirip dorsal, sirip kaudal, sirip anal, sirip pelvik dan sirip pektoral. Habitat dan penyebaran Habitat Ikan hiu umumnya adalah di laut. Hiu umumnya ditemukan di perairan dalam berkarang dengan dasar yang tidak terlalu terjal. Pemanfaatan ikan hiu, komposisi berat dan gizi Ukuran dan berat ikan hiu sangat bervariasi, tergantung dari jenis hiu dan habitatnya.

Berat rata-rata badan hiu sekitar 51% dari berat totalnya. Persentase daging fillet sekitar 42% dan bagian kepala sekitar 24%. Sirip hiu umumnya hanya 5%, hati hiu 7% dan usus hiu 20% dari total berat. Kandungan zat gizi daging ikan hiu terdiri dari air 73,6-79,6%, protein 16,3-21,7%, lemak 0,1-0,3% dan mineral 0,6-1,8%.Tabel 1. kandungan gizi daging beberapa jenis hiu Jenis hiu Air Protein 17,7 0,3 1,8 Carcharhinus 19,9 0,3 1,3 Shyrna blochii 0,6 Carcharhinus falciformis 73,6 21,7 adalah : Sirip hiu Pemotongan sirip dilakukan secara hati-hati agar diperoleh sirip yang berkualitas tinggi. Sirip dipotong tanpa menyertakan dagingnya. Sirip yang baru dipotong tidak dapat langsung diolah. Oleh karena itu sirip perlu diawetkan. Pengawetan sirip dapat dilakukan dengan cara pembekuan, pengeringan, penggaraman atau pengapuran. Kulit ikan hiu Kulit ikan hiu dapat dimanfaatkan sebagai produk berbahan kulit atau makanan kerupuk.

Pengulitan ikan hiu sebaiknya dilakukan segera setelah penangkapan hiu. Kulit ikan hiu melekat kuat pada daging sehingga proses pengulitan agak sukar. Pengulitan dimulai dengan penyayatan bagian punggung ikan dengan kedalaman sayatan sekitar 2-4 cm. Selanjutnya kulit dibersihkan dari sisa-sisa daging yang masih menempel.

Tindakan selanjutnya adalah pengawetan kulit ikan. Pengawetan kulit dapat dilakukan dengan cara pengeringan atau penggaraman. Setelah melalui proses pengawetan, kulit dapat disamak. Daging hiu Daging ikan hiu umumnya dimanfaatkan dengan cara pengasinan, pengasapan dan pemindangan. Pemanfaatan daging ikan hiu masih terbatas dikarenakan dagingnya yang beraroma tidak enak.

Daging ikan hiu umumnya diolah menjadi dendeng, abon, daging lumat, surimi hiu, bakso, sosis dan tepung daging. Hati hiu Hati ikan hiu kaya akan minyak hati. Pada beberapa spesies hiu, kandungan minyak hati dapat mencapai 80 %. Minyak hati banyak mengandung vitamin A dan skualen. Skualen dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetika. Bagian tubuh Lainnya Tulang ikan hiu kaya akan kolagen. Tulang hiu umumnya dimanfaatkan sebagai lem, tepung tulang atau kerajinan. Tulang hiu yang diekstrak dapat menghasilkan kondroitin. Kondroitin dapat dimanfaatkan untuk obat tetes mata dan mencegah penuaan sel. Gigi ikan hiu umumnya dimanfaatkan dalam industri kerajinan seperti mainan kalung. Isi perut hiu dapat dimanfaatkan dalam pembuatan silase untuk pakan atau kecap.

sumber : http://www.lombokglobal.biz/shark-fin/article.htm
Jika menurut sobat artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar