Kamis, 24 Maret 2011

Lipid

II. TEORI
Lipid adalah segolongan senyawa organik yang terdapat di dalam alam dan mempunyai sifat-sifat:
1. Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut-pelarut lemak seperti eter, kloroform, alkohol panas dan benzene.
2. Berhubunagn erat dengan asam lemak.
3. Dapat digunakan oleh organisme hidup.
Lipid dapat diekstraksi oleh jaringan binatang maupun tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan pelarut lemak. Hasil ekstraksi merupakan campuran yang kompleks diantaranya: trigliserida, wax, fosfolipid, glikolipid, bermacam-macam sterol dan senyawa-senyawa lain yang terbentuk sebagai hidrolisa zat-zat tersebut diatas. Trigliserida, kolesterol dan ester kolesterol dinamakan juga lipid netral karena tidak bermuatan.


Klasifikasi
Menurut Bloor, lipid dapat dibagi dalam tiga golongan yaitu:
1. Simple Lipid
Merupakan ester asam-asam lemak dengan bermacam-macam alkohol, yang termasuk simple lipid yaitu:
a. Lemak netral dan minyak
Ialah ester asam-asam lemak dengan gliserol. Minyak ialah lemak yang berbentuk cair pada suhu kamar.
Contoh: Tristerin, tripalmitin, dipalmitostearin, distearopalmitin.
b. Wax
Ialah ester asam-asam lemak dengan alkohol alifatik yang mempunyai rantai karbon panjang.
2. Compound Lipid
Compound lipid merupakan ester asam-asam lemak yang pada hidrolisa menghasilkan asam lemak, alkohol, dan juga zat-zat lain.
a. Fosfolipid
Hidrolisa fosfolipid menghasilkan asam lemak, gliserol (atau alkohol lain yang bukan gliserol), asam folat dan senyawa-senyawa lain. Contoh fosfolipid:
1. Asam fosfatidat (fosfatidil gliserol), hanya mengandung gliserol, asam lemak dan asam fosfat. Difosfatidilgliserol dikenal dengan nama kardiolipin dan terdapat di dalam mitokondria.
2. Fosfatidilkolin (lesitin), mengandung asam fosfat dan kolin.
3. Fosfatidiletanolamin (sefalin), mengandung asam fosfatidat dan etanolamin.
4. Fosfatidil inositol (lipositil), mengandung asam fosfatidat dan inositol.
5. Fosfatidil serin, mengandung asam fosfatidat dan asam amino serin.
6. Plasmalogen, menyerupai lesitin dan sefalin, kecuali ikatan ester asam lemak pada posisi pada karbon gliserol diganti oleh ikatan ester dengan suatu alkohol tak jenuh.
7. Sfingomielin, tidak mengandung gliserol. Pada hidrolisa akan dihasilkan asam lemak, asam fosfat, kolin, dan suatu alkohol yang mengandung gugus amina yang disebut sfingosin.
b. Glikolipid (Serebrosida)
Glikolipid mengandung asam lemak, sfingofusin dan karbohidrat (galaktosa/glukosa). Sulfatida ialah serebrosida yang mengandung sulfat. Gangliosida mengandung, disamping glukosa/galaktosa, asam lemak dan sfingosin juga mengandung asam N-asetilneraminat dan hexosamin.
3. Derivat Lipid
Derivat lipid ialah semua senyawa yang dihasilkan pada hidrolisa simple dan compound lipid yang masih mempunyai sifat-sifat seperti lemak dimasukkan dalam golongan ini.

Asam-asam Lemak
1. Dengan rantai karbon jenuh.
Umumnya sam-asam lemak yang terdapat di alam mengandung jumlah atom C genap (asam asetat, asam butirat, asam kaproat, asam laurat, asam sterat dan asam arachidat).
2. Dengan rantai karbon yang mengandung ikatan rangkap.
Contoh: asam oleat, asam linoleat dan asam arachidonat. Yang tiga terakhir digolongkan dalam asam lemak essensial, karena diperlukan untuk pertumbuhan optimum dan tidak dibentuk didalam tubuh dalam jumlah yang cukup untuk keprluan jaringan.
Umumnya asam lemak jenuh lebih banyak terdapat didalam lemak hewan, sedangkan asam lemak tak jenuh lebih banyak didalam minyak tumbuh-tumbuhan
Dalam keadaan murni, pada umumnya lemak tidak mengandung rasa, tidak berwarna, dan tidak berbau. Warna lemak atau minyak yang terdapat dialam disebabkan oleh bermacam-macam pigmen.
Tipe lemak mempunyai titik lebur yang ditentukan oleh asam lemaknya. Sifat ini dapat dipakai untuk memisah-misahkan campuran bermacam-macam lemak. Sebagai contoh: Titik lebur tristearin 71°C dan trielin -5°C.
Asam-asam lemak tak jenuh yang terdapat dialam mudah mengalami oksidasi dan membentuk bermacam-macam zat yang menyebabkan lemak berbau tengik. Zat-zat tersebut tidak dapat dicernakan dan diantaranya ada yang bersifat racun. Untuk mencegah lemak menjadi tengik, dapat ditambahkan antioksidan misalnya hidroquinon.
Asam-asam lemak tak jenuh dapat menghilangkan warna iodium. Hal ini disebabkan karena adisi iodium pada ikatan rangkap. Berdasarkan sifat ini, iodium dapat dipakai untuk menmentukan banyaknya ikatan rangkap di dalam sejumlah tertentu lemak (Angka Iodium= jumlah gram yang dapat diadisi oleh 100 gram lemak).

III. ALAT DAN BAHAN

Alat-alat:
- Tabung reaksi
- Beaker glass
- Batang penagduk
- Labu Erlenmeyer
- Pipet tetes
- Buret dan statif
- Kertas saring-
- Erlenmeyer bertutup glass
- Gelas ukur
- Penangas air
- Spatel
- Tabung sentrifugasi

Bahan-bahan:
- Adeps lanae
- Margarin
- Aquadest
- Larutan Iodium
- Eter
- KOH-Etanol 0,5 N
- Kloroform
- HCL 0,5 N
- NaOH 0,1 N
- Indikator PP
- Minyak kelapa
- KBrO3 0,2 N
- Na2CO3 0,5 %
- KBr
- Etanol
- HCL 4 N
- Larutan KI 16 %
- Na-tiosulfat 0,1 N
- Merah telur
- Aseton
- KOH dlm etanol 10%
- Larutan kolesterol 0,05% dlm CHCl3
- Asam asetat anhidrat - H2SO4 (p)

IV. PERCOBAAN DAN HASIL PENGAMATAN

1. Percobaan daya larut
Untuk memeriksa daya larut suatu zat terutama lipid sejumlah kecil zat tersebut dilarutkan dalam beberapa ml pelarut. Derajat kelarutan dapat dilihat secara langsung. Dapat juga larutan dituang perlahan-lahan (atau disaring dengan kertas saring kering) ke dalam sebuah gelas arloji. Pelarut dapat diuapkan dengan pertolongan penangas uap. Jumlah residu menunjukkan jumlah zat yang larut dalam larutan yang diperiksa.

a. Periksalah daya larut lemak domba dalam air, alkohol panas, alkohol dingin, eter, dan kloroform. Taruhlah setetes larutan dalam eter pada sehelai kertas saring. Perhatikan bercak lemak setelah eter menguap.
Berikut merupakan hasil pengamatan kelarutan lemak domba:
Pelarut Kelarutan
Air Tidak larut
Alkohol panas Tidak larut
Alkohol dingin Tidak larut
Eter Larut
Kloroform Larut
Test bercak lemak  ada bercak transparan (+)

b. Masukkanlah sedikit lemak padat ke dalam tabung reaksi. Tambahkanlah 2 ml air dan hangatkanlah dalam penangas uap Perhatikan bahwa lemak akan mencair dan terapung pada permukaan air. Tambahkanlah beberapa ml NaOH dalam alkohol. Panaskan kembali. Larutan akan menjadi jernih. Kocok dan perhatikan pembentukkan busa yang cepat. Terangkan.
Berikut merupakan hasil pengamatan kelarutan lemak padat:
Setelah ditambahkan NaOH dalam alkohol, dipanaskan, lalu diangkat, dikocok  Mula-mula terlihat lemak mengapung, terbentuk busa, kemudian busa tersebut cepat menghilang.

c. Periksalah daya larut minyak kelapa dalam air, alkohol panas, alkohol dingin, eter dan kloroform. Lakukan test bercak lemak. Masukkanlah kedalam tabung reaksi 1 ml minyak dan 3 ml air, kocok dan tambahkanlah 1 ml larutan natrium karbonat 0,5 % dan kocok lagi. Bagaimana pengaruh natrium karbonat terhadap kestabilan emulsi.

Berikut merupakan hasil pengamatan kelarutan minyak kelapa:
Pelarut Kelarutan Pengamatan Bercak
Air Tidak larut Bercak transparan
Alkohol panas Tidak larut Bercak transparan
Alkohol dingin Tidak larut Tidak ada bercak
Eter Larut Bercak transparan
Kloroform Larut Bercak transparan

Test Pengamatan
1 ml minyak kelapa + 3 ml air  kocok + 1 ml larutan Na karbonat 0,5 % Warna larutan menjadi putih susu.
Pengaruh Na karbonat terhadap emulsi adalah menjadikan emulsi tidak stabil.

2. Percobaan untuk menyatakan ikatan tak jenuh
Ambillah 3 buah tabung reaksi kering. Kedalam tabung yang pertama masukkanlah sedikit minyak kelapa, kedalam tabung kedua margarin dan kedalam tabung yang ketiga lemak padat. Kedalam tiap tabung ditambahkan kloroform dalam jumlah sama. Kemudian teteskan kedalam tiap tabung larutan iodium. Goyanglah tabung reaksi pada tiap penambahan iodium. Terangkan apa yang terjadi.
Berikut merupakan hasil pengamatan ikatan tak jenuh pada margarin, minyak kelapa, dan lemak domba:

Zat Uji Pengamatan
Margarin Warna merah keunguan
Minyak kelapa Warna merah jernih
Lemak padat Warna merah kecokelatan (merah hati)

3. Penetapan angka penyabunan
Timbanglah lebih kurang 2 gram minyak kedalam Labu Erlenmeyer, tambahkanlah 25 ml larutan KOH-Etanol 0,5 N dalam jumlah yang sama. Kedua labu di reflux di atas penangas air selama 30 menit sambil diaduk sewaktu-waktu. Titrasi dengan HCL 0,5 N menggunakan indikator fenolftalein. Hitung angka penyabunan dengan rumus:

Angka penyabunan:
a adalah jumlah HCL 0,5 N yang dibutuhkan titrasi zat uji
b adalah jumlah HCL 0,5 N yang dibutuhkan untuk titrasi blangko
g adalah berat minyak yang digunakan
Berikut merupakan penentuan bilangan penyabunan lemak domba:
• Jumlah HCl 0,5 N yang dibutuhkan untuk titrasi zat uji (a) = 10,7 ml
• Jumlah HCl 0,5 N yang dibutuhkan untuk titrasi blanko (b) = 12,8 ml
Jadi, angka penyabunannya:
( 12,8 – 10,7 ) x 28.05 /2 = 29,4525/gr lemak domba
Pada percobaan penentuan bilangan penyabunan ini, praktikan tidak menggunakan KOH-etanol dikarenakan ketersediaan bahan pada awal percobaan. Praktikan menggunakan NaOH-metanol sebagai ganti atas seijin dari asisten laboratorium. Hal ini menyebabkan sedikit pergeseran angka penyabunan dibandingkan dengan penyabunan menggunakan KOH-etanol.

4. Penetapan bilangan Iodium
Timbang lebih kurang 2 gram zat dalam labu Erlenmeyer bertutup gelas, larutkan dalam 10 ml CHCl3 dan berturut-turut tambahkan 25 ml KBrO3 0,2 N; 1,5 gram KBr yang telah dilarutkan dalam 5 ml air dan 7 ml HCL 4 N. Simpan labu di tempat gelap selama 1 jam. Buka sumbat, tambahkan 7 ml larutan natrium tiosulfat 0,1 N dan kocok kuat-kuat. Lakukan titrasi blangko.
Bilangan Iodium : ( b – a) x N Na2S2O3 x 100 x 0,1269
g
a adalah jumlah Na2S2O3 0,1 N yang dibutuhkan untuk titrasi zat uji
b adalah jumlah Na2S2O3 0,1 N yang dibutuhkan untuk titrasi blangko
g adalah berat zat yang digunakan
Berikut merupakan penentuan bilangan Iodium:
• Jumlah Na2S2O3 0,1 N yang dibutuhkan untuk titrasi zat uji (a) = 15,3 ml
• Jumlah Na2S2O3 0,1 N yang dibutuhkan untuk titrasi blanko (b) = 23,9 ml
Jadi bilangan Iodiumnya:
(23,9 – 15,3) x 0,1 x 100 x 0,1269 /2 = 10,9134/gr mentega

5. Ekstraksi kolesterol dari merah telur
Mula-mula telur dipecahkan dan dikeluarkan isinya, kemudian bagian kuning telur dipisahkan dari putihnya, kuning telur dimasukkan kedalam gelas piala 100 ml dan ditimbang beratnya.
Sebanyak 25 ml metanol dalam 12,5 kloroform berturut-turut dituangkan kedalam gelas piala yang berisi kuning telur, lalu diaduk dan didiamkan selama 10 menit. Selanjutnya campuran tersebut disaring dengan kertas saring n0.40 yang telah dibasahkan sebelumnya dengan alkohol, dan ditampung ke dalam gelas piala kering. Endapan yang terbentuk dibilas dengan 20 ml campuran metanol-kloroform 2:1 (v/v). Hasil bilasan tersebut disatukan dengan filtrat. Larutan KCL 1 % kemudian ditambahkan kedalam campuran filtrat dan hasil bilasan dengan volume 1:1.
Seluruh campuran larutan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam corong pisah lalu dikocok-kocok hingga terbentuk dua bagian larutan, larutan kloroform akan berada di bagian bawah corong pemisah.
Kemudian larutan kloroform yang melarutkan kolesterol hasil ekstraksi diambil sebanyak 10 ml dan ditampung dalam vial 25 ml, lalu disimpan dalam lemari pendingin untuk analisis kadar kolesterol.
Berikut merupakan hasil pengamatan pada ekstraksi kolesterol dari merah telur:
Terbentuk dua lapisan larutan yang bagian atasnya berwarna putih keruh dan pada bagian bawahnya berwarna kuning. Cairan tersebut kemudian dipisahkan dengan corong pemisah, diambil bagian bawahnya yang berwarna kuning kurang lebih volumenya 10 ml.

6. Percobaan-percobaan dengan kolesterol
a. Reaksi Salkowski
Percobaan ini memerlukan alat-alat yang kering benar.
Metode:
1 ml larutan kolesterol 0,05 % dalam kloroform dicampur berhati-hati dengan 1 ml H2SO4 pekat. Setelah kedua lapisan cairan berpisah lagi akan timbul berturut-turut warna merah, biru, ungu dalam lapisan kloroform. Selai dari itu dalam lapisan asam akan tampak fluorosensi kuning.
Berikut merupakan hasil pengamatan reaksi Salkowski:
Reaksi Salkowski Pengamatan
Larutan standar Terbentuk dua lapisan cairan berwarna merah muda dan bening
Larutan ekstrak Terbentuk dua lapisan cairan berwarna merah cokelat dan merah keunguan
b. Reaksi Liebermann-Burchard
Metode:
1 ml larutan kolesterol standar 0,05 % dalam kloroform ditambah dengan 1 ml pereaksi Liebermann-Buchard (asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat 10:2). Kocoklah hati-hati dan perhatikan warna-warna yang timbul.
Berikut merupakan hasil pengamatan reaksi Liebermann-Buchard:
Reaksi Liebermann-Burchard Pengamatan
Larutan standar + asam asetat anhidrat 10 tetes + 3 tetes H2SO4(p)  terbentuk warna hijau
Ekstrak kolesterol + asam asetat anhidrat 10 tetes + 3 tetes H2SO4(p)  terbentuk warna hijau yang pekat

VI. PEMBAHASAN

1. Percobaan daya larut
Pada tes kelarutan didapat hasil bahwa lemak domba dan minyak kelapa yang bersifat nonpolar larut dalam eter dan kloroform karena keduanya merupakan pelarut organik (nonpolar). Sedangkan pada pelarut polar seperti air dan alkohol, lemak domba dan minyak kelapa tidak dapat larut. Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut ditentukan oleh banyak hal, antara lain adalah sifat kepolaran zat dan pelarutnya. Umumnya zat yang polar dapat larut dalam pelarut yang bersifat polar, namun tidak dapat larut dalam pelarut nonpolar. Begitu juga sebaliknya. Hal ini dikarenakan adanya momen dipol pada zat atau pelarut sehingga dapat berikatan dan berinteraksi dengan sesamanya. Sedangkan pada pelarut nonpolar tidak memiliki momen dipol, sehingga tidak bisa berinteraksi dengan zat yang polar, jadi tidak dapat larut.
Pada tes bercak lemak, adanya bercak transparan pada kertas saring menandakan adanya lemak pada zat tersebut. Pada zat dalam pelarut eter terdapat bercak karena lemak domba telah larut sehingga terbawa pada saat penetesan dan dapat membuat bercak pada kertas.
Pengaruh Na2CO3 terhadap kestabilan emulsi adalah: dengan adanya logam Na menyebabkan emulsi menjadi cepat pecah (terpisah menjadi dua komponennya kembali). Pada saat minyak dikocok bersama air akan terjadi emulsi minyak dalam air, ditandai dengan adanya kekeruhan / larutan berwarna putih. Setelah ditambah Na2CO3, emulsi langsung pecah ditandai dengan adanya lapisan minyak (berwarna kuning) pada permukaan, lapisan air pada bagian bawah, dengan sedikit kekeruhan pada bagian tengah larutan.

2. Percobaan untuk menyatakan ikatan tak jenuh
Percobaan ini dilakukan untuk menyatakan adanya ikatan tak jenuh dalam suatu lemak atau minyak. Bahan-bahan yang digunakan adalah minyak kelapa, margarin, dan lemak padat berupa adeps lanae. Ketiga zat tersebut dilarutkan dalam kloroform karena tidak larut dalam air. Setelah itu, ditambahkan larutan iodium sama banyak pada ketiga zat.
Reaksi yang terjadi adalah reaksi adisi oleh iod. Iod akan memutus ikatan rangkap yang terdapat molekul zat, kemudian iod tersebut akan menggantikan posisi dari ikatan rangkap tersebut melalui reaksi adisi sehingga jumlah ikatan rangkap dalam molekul zat akan berkurang atau menjadi tidak ada sama sekali (jika teradisi semuanya oleh iod). Dengan adanya reaksi ini, maka warna larutan iod akan hilang.
Minyak kelapa mengandung triasil gliserol dengan 80-85 % asam lemak jenuh. Asam lemak utama yang terdapat dalam minyak kelapa adalah asam laurat dan asam miristat (merupakan asam lemak dengan bobot molekul rendah dan memiliki bilangan penyabunan yang tinggi). Selain itu, minyak kelapa juga mengandung asam kaprilat, asam kaprat, dan asam oleat.
Margarin merupakan salah satu produk makanan konsumsi sehari-hari yang dibuat dengan menggunakan bahan baku lemak nabati. Margarin dibuat melalui proses hidrogenasi asam lemak tak jenuh yang bersumber dari tanaman. Margarin adalah emulsi air dalam minyak yang berbentuk padat. Komposisi dari margarin menurut British Nutrition Foundation adalah :
• Lemak (minimum 80 %, tetapi kurang dari 90 %)
• Lemak susu (maksimum 3 % dari total lemak)
• Vitamin A 940-960 IU per ounce (800-100 µg setiap 100 g)
• Vitamin D 80-100 IU per ounce (7,05-8,82 µg setiap 100 g)
Adeps lanae (lemak bulu domba, lanolin) adalah zat serupa lemak yang dimurnikan, diperoleh dari bulu domba Ovis aries Linne (Familia Bovidae) yang dibersihkan dan dihilangakan warna dan baunya. Adeps lanae mengandung air tidak lebih dari 0,25 % dan boleh mengandung antioksidan yang sesuai tidak lebih dari 0,02 %. Adeps lanae mengandung kolesterol, alkohol dan isokolesterol, bersama dengan berbagai ester lainnya. Selain itu, juga terdapat asam lanoserat, asam lanopalmitat, asam karnaubat, asam miristat, asam oleat, dan mungkin asam serotat serta asam palmitat.
Pada hasil percobaan, minyak kelapa, margarin dan adeps lanae memberikan hasil positif yaitu dengan hilangnya warna larutan iod (ungu). Minyak kelapa menghasilkan warna jingga jernih, margarin menghasilkan warna jingga keruh, dan adeps lanae menghasilkan warna kuning. Hal itu berarti pada ketiga zat itu, terdapat ikatan tak jenuh (ikatan rangkap) sehingga dengan penambahan larutan iodium, terjadi reaksi adisi yang menyebabkan hilangnya warna larutan iod. Ikatan tak jenuh yang terdapat dalam margarin lebih banyak daripada ikatan tak jenuh dalam adeps lanae dan minyak kelapa (ikatan tak jenuh dalam margarin > minyak kelapa > adeps lanae). Hal tersebut dapat disimpulkan dari intensitas warna yang terbentuk (jingga keruh > jingga jernih > kuning).

3. Penetapan Angka Penyabunan
Menurut Farmakope edisi III, bilangan penyabunan adalah bilangan yang menunjukkan jumlah mg kalium hidroksida yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dan menyabunkan ester yang terdapat dalam 1 g zat uji. Caranya adalah dengan menentukan jumlah kelebihan KOH yang tersisa setelah saponifikasi.
Pada percobaan, yang dihitung adalah angka sabun dari margarin. Mula –mula margarin dilelehkan dahulu, kemudian ditimbang 2 gram ke dalam labu erlenmeyer, lalu tambahkan 25 ml larutan KOH-etanol 0,5 N. Etanol digunakan karena margarin tidak dapat larut dalam air, maka untuk meningkatkan kelarutan margarin digunakan etanol. Setelah itu lakukan reflux. Caranya adalah pada bagian atas labu erlenmeyer (yang telah berisi margarin yang dicampur dengan KOH-etanol) diberi corong yang ditutup dengan kaca arloji yang bagian atasnya diberi kapas basah. Lalu dimasukkan ke dalam penangas air selam 30 menit. Dengan adanya pemanasan dan penambahan alkali (KOH) maka margarin akan membentuk gliserol dan sabun atau garam asam lemak. Proses ini lebih dikenal dengan nama saponifikasi. Kemudian dilakukan titrasi dengan HCl 0,5 N dan 1 ml phenolftalein sebagai indikator. Titrasi HCl akan menetralkan KOH yang berlebih dan terbentuklah endapan putih garam netral KCl. Serta kelebihan HCl akan mengubah sabun menjadi asam lemaknya. Larutan HCl tersebut digunakan untuk mengetahui sisa KOH yang tidak bereaksi. Selisih antara titrasi blanko dengan larutan yang berisi zat uji adalah jumlah KOH yang digunakan untuk menyabunkan lemak. Titik akhir titrasi diperoleh apabila warna larutan telah berubah dari merah muda menjadi tidak berwarna. Prosedur ini dilakukan baik terhadap larutan yang berisi zat uji maupun terhadap blanko.
Dari penentuan angka sabun ini dapat ditentukan atau diperkirakan panjang rantai karbon dalam gugus asam dari molekul minyak atau lemak dan dapat juga ditentukan jumlah asam yang terikat pada ester. Besar kecilnya angka penyabunan tergantung pada panjang pendeknya rantai karbon asam lemak. Atau dengan kata lain besarnya angka penyabunan tergantung pada berat molekul asam lemak tersebut. Makin besar berat molekul lemak maka makin makin kecil bilangan penyabunannya, seperti tampak pada tabel berikut :
Angka penyabunan yang diperkirakan Berat sample (gram)
0-59 10,0-12,0
60-79 9,0-11,0
80-99 7,0-8,6
100-119 5,7-7,0
120-139 4,9-5,9
140-149 4,2-5,1
160-179 3,9-4,8
180-199 3,3-4,1
200-219 3,0-3,7
220-239 2,7-3,4
240-259 2,5-3,1
260-300 2,2-2,7
Setelah semua asam lemak bereaksi dengan KOH akan terjadi reaksi :
KOH + HCl → KCl + H2O
Setelah semua KOH habis, reaksinya :
H+ + PP → tidak berwarna
Untuk menghitung angka penyabunan digunakan rumus :
a = jumlah HCl 0,5 N untuk titrasi larutan yang berisi zat uji
b = jumlah HCl 0,5 N untuk titrasi blanko
Namun, pada percobaan kali ini, praktikan tidak menggunakan KOH melainkan NaOH, namun pada prinsipnya adalah sama.

4. Penetapan Bilangan Iodium
Menurut Farmakope Indonesia edisi III bilangan Iodium adalah bilangan yang menunjukkan jumlah gram Iodium yang diserap oleh 100 gram zat.
o Bila bilangan iod 130 : drying oils
Angka iodium dapat digunakan untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung di dalamnya, tetapi tidak dapat memberikan informasi yang signifikan mengenai jumlah ikatan tidak jenuh yang ada dalam sampel. Dari sumber yang praktikan dapatkan, dapat dinyatakan bilangan iodium sebagai berikut:
Asam Lemak Jumlah Ikatan Rangkap Bilangan Iodin
Asam Palmitat 1 95
Asam Oleat 1 86
Asam Linoleat 2 173
Asam Linolenat 3 261
Asam Arakidonat 4 320
Pada zat uji, dalam hal ini margarin yang telah dilelehkan ditimbang 2 gram, setelah itu dilarutkan dalam 10 ml kloroform, dan dicampurkan dengan 25 ml KBrO3 0,2 N dan 1,5 gram KBr yang dilarutkan dalam 5 ml air dan 7 ml HCl 4 N. kemudian diamkan selama 1 jam di tempat gelap. Setelah itu ditambahkan larutan KI 16 % 7 ml yang akan membetuk warna larutan coklat. Pada pendiaman selama 1 jam tersebut akan terbentuk Br2. Br2 dihasilkan dari proses reduksi BrO3- (Br yang berasal dari KBr dioksidasi oleh Br dari KBrO3 membentuk Br2). Br2 yang dihasilkan kemudian sebagian akan mengadisi margarin dan sebagian lagi akan bereaksi dengan larutan KI (I-) membentuk I2, yang kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 menjadi I- kembali. Br2 yang mengoksidasi I- menjadi I2 menyebabkan larutan berwarna coklat. Semakin banyak volume Na2S2O3, makin banyak I2 direduksi menjadi I-, sehingga menjadi larutan tidak berwarna. Maksud pendiaman di tempat gelap selama 1 jam setelah margarin dilarutkan dengan bermacam-macam pelarut dan sebelum bereaksi dengan KI adalah supaya BrO3- sebanyak mungkin tereduksi menjadi Br2, sehingga akan banyak bereaksi dengan zat dan larutan KI. Reaksi lengkapnya adalah :
2 BrO3- + 10 Br – + 12 H+  6 Br2 + 6 H2O
Bagian Br2 lainnya akan bereaksi dengan penambahan larutan KI :
Br2 + 2 I- I2 + 2 Br – (larutan menjadi berwarna coklat)
I2 yang terbentuk dititrasi denagn menggunakan larutan natrium tiosulfat, dengan reaksi :
I2 + 2 S2O32-  2 I- + S4O62- (larutan menjadi jernih)
Titrasi dihentikan apabila telah terjadi perubahan warna larutan dari coklat menjadi tidak berwarna dan pada bagian bawah larutan terdapat endapan berwarna kuning muda. Titrasi dilakukan dengan menutup mulut erlenmeyer dengan plastik untuk menghindari penguapan I2.
Dari percobaan dibutuhkan larutan natrium tiosulfat sebanyak 7,515 ml untuk larutan uji dan 54,650 ml untuk larutan blanko. Perhitungan bilangan iodium dapat dilakukan dengan menggunakan rumus :
(b-a) x N Na2S2O3 x 100 x 0,1269
g
b = jumlah ml Na2S2O3 0,1 N untuk titrasi blanko
a = jumlah ml Na2S2O3 0,1 N untuk titrasi zat uji

5. Ekstraksi kolesterol dari merah telur
Pertama-tama, praktikan memisahkan kuning telur dari putihnya. Putih telur mengandung protein berupa albumin. Sedangkan kuning telur mengandung berbagai fosfolipid dalam jumlah yang sebanding dengan berat merah telur. Kemudian kuning telur dipisahkan dari putihnya. Merah telur diaduk dengan campuran 25 ml alcohol dan 12.5 ml eter, diamkan sambil dikocok sewaktu-waktu selama 10 menit. Saring ke dalam beaker kering melalui kertas saring yang dibasahi dengan alcohol. Cuci residu di atas kertas saring dengan 10 ml larutan alcohol-eter segar yang dipakai untuk ekastraksi. Uapkan filtrat hingga kering diatas waterbath, larutkan residu di dalam 10 ml eter,tuang perlahan-lahan ke dalam 30 ml aseton sambil diaduk. Endapan yang terjadi adalah lesitin(fosfolipid).
Lesitin atau fosfatidilkolin adalah senyawa fosfogliserol yang mengandung kolin (lesitin mengandung gliserol, asam lemak, asam fosfat, dan kolin). Senyawa ini adalah fosfolipid kolin terdapat dengan jumlah terbanyak di dalam membran sel dan menunjukkan proporsi simpanan kolin yang besar pada tubuh. Kolin sangat penting dalam proses transmisi saraf dan sebagai simpanan, gugus metil yang labil. Lesitin dapat diperoleh dari hewan, kuning telur, kecambah, gandum, ragi, dan kedelai.
Pemisahan fosfatidilkolin dari lemak dan kolesterol dilakukan dengan pelarut eter dan aseton. Lesitin memiliki gugus kolin yang bermuatan positif sehingga lebih larut dalam eter dan kurang larut dalam aseton. Hal ini disebabkan eter memiliki elektron bebas yang dapat diserang oleh muatan positif dari kolin sehingga kolin lebih larut dalam eter daripada aseton yang tidak memiliki elektron bebas.
Filtrat yang diperoleh dari penyaringan lesitin (eter-aseton) diuapkan diatas waterbath sampai menghasilkan suatu pasta. Kemudian, ditambahkan 15 ml larutan KOH dalam etanol 10% lalu disaring. Endapannya adalah sabun, sedangkan filtratnya mengandung kolesterol yang berwarna kuning kemerahan/ kecoklatan (berupa sabun).
Kolesterol merupakan lipid amfipatik dan merupakan komponen penting struktural yang membentuk membran sel serta lapisan eksternal lipoprotein plasma. Kolesterol masuk ke dalam membran bilayer (membran sel) dengan gugus hidroksilnya mengarah ke fase air dan cincin hidrofobiknya berdekatan dengan gugus lemak dan fosfolipid. Gugus hidroksil dari kolesterol membentuk ikatan hidrogen dengan gugus polar fosfolipid.
Kolesterol disintesis dari asetil-koA dalam banyak jaringan dan dikeluarkan dari tubuh lewat empedu. Kolesterol merupakan prekursor semua senyawa steroid dalam tubuh, seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan vitamin D. Kolesterol terdapat dalam segala macam makanan yabg berasal dari hewan seperti kuning telur, daging hati, dan otak.

6. Reaksi Liebermann-Burchard (blanko)
Percobaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kolesterol dengn adanya pereaksi asam astat anhidrad dan H2SO4 (p) akan memberikan perubahan warna dari ungumerah menjadi biru dan kemudian hijau dengan sedikit endapan hitam yang melayang yang disebabkan adanya gugus kromofor dan auksokrom pada kolesterol.

VII. KESIMPULAN
1. Lipid (lemak) larut dalam pelarut organik yang bersifat nonpolar. Pada percobaan untuk menyatakan ikatan tak jenuh terjadi reaksi adisi I2 dengan ketiga zat uji, yaitu margarin, adeps lanae dan minyak kelapa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan warna.
2. Angka penyabunan = 29,4525/gr lemak domba
3. Bilangan Iodium = 10,9134/gr mentega
4. Kolesterol dapat diuji dengan reaksi Liebermann-Burchard karena kolesterol mempunyai gugus kromofor yang memberikan warna dan mempunyai serapan pada panjang gelombang tertentu.
5. Pada minyak kelapa, margarin, dan lemak padat (adeps lanae) terdapat ikatan tak jenuh yang dapat dibuktikan dengan hilangnya warna iodium.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, halaman 57-58.
Murray, Robert K. et al. 2003. Biokimia Harper Edisi ke-25. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, halaman 156, 277, 564.
http://www.nutrition.org.uk/information/foodandingredients/marg.html
Jika menurut sobat artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar